Makhluk “Anomali”

Sejenak rehat dari rutinitas dan menemukan satu hal di jejaring sosial.

Satu orang tepatnya..
Ia lucu. Saya mengenalnya saat di bangku kuliah.
Dia yang jauh lebih tua, suka dengan salah satu teman berusia di bawah saya.
Tidak berlanjut, tapi kami tetap berteman.
Ya..begitulah pertemanan.

Dia sosok yang unik.
Anak band, suka sejarah, “idealis”, dan selalu bertopi Gatsby kotak-kotak alias Newsboy Cap.
Pemikirannya jarang bisa dipahami dan mungkin itu juga yang membuatnya memilih untuk tidak bertoga.

Hingga kini, di jejaring sosial, ia (sebut saja si makhluk “anomali) masih kerap membuat saya terhenyak.
Di dunia ini, eksistensi makhluk sejenis pasti ada di sekitar kita.
Tapi tak akan terlihat dari kasat mata.
Karena mereka sibuk dengan “idealisme”.
Tak akan terganggu oleh mayoritas.

Terbesit rasa ingin suatu saat menjadi satu spesiesnya..

Jurnalis Berkisah

Sudah sejak lama terbesit dan tergerak untuk mendapatkan buku ini. Tapi agaknya butuh waktu lama untuk merealisasikannya. Banyak alasan. Tapi tak perlu dikemukakan.

Buku ini ditulis oleh banyak jurnalis dan disunting oleh satu orang redaktur di tempat dulu pernah bernaung. Pikiranpun melayang ke masa lalu. Ketika idealisme menggebu-gebu. Ketika waktu dan uang tak begitu berarti ketimbang kepuasan melirik tulisan-tulisan terpampang di laman depan serta menggelitik banyak orang.

Padahal saya ini sok tahu. Suka merasa benar eh ternyata salah. Mas Yus, panggilan Sang Penyunting diantara para asisten penulis, adalah orang yang meluruskan pikiran saya kembali ke jalur yang seharusnya. Dari beliau saya belajar banyak hal terutama bahwa pintar itu tak perlu membuat kita jadi tinggi hati. Waktu dan publik yang akan menilainya melalui karya.

Begitu pula dengan buku “Jurnalis Berkisah”.

Di sini, karya tak akan lekang oleh waktu. Ia akan terus menginspirasi generasi-generasi selanjutnya. Ada (jurnalis)  yang pada akhirnya masuk ke sebuah sistem, dan ada yang terus berkarya, menulis, meliput, tanpa kenal berapa besar upah yang ia terima.

Ah, membaca ini tak akan ada habisnya.

Rindu, tentu..

Taken from kari-shma.me

China, Really?

Am going to China! A country where so many people speaks so loud. Apparently faith has brought me there. A land where Indonesia’s originally came from centuries ago.

I flew with China Southern Airlines to Guangzhou, then transfer to domestic flight to Nanning. Being in this airplane is weird. Everything is in Chinese. Even the magazine!!!

20130327-180956.jpg

Gosh! I don’t understand any Chinese language. Do I really need to learn some Chinese? Or Mandarin? Or else suddenly being a Metro Xin Wen reporter? #random

But i learned something from the magazine. How Chinese people has a very intense relations with their ancestors and cultures. Even when they’re abroad. There is this article about the History of Chinese in USA.

20130327-181051.jpg

Well, this is my brunch menu! Thank God it’s a fish. So I don’t have to starve all day long. Yeaayyy! I also save a cheese and crackers just in case I can’t find any Halal food in the mainland of China.. :D

20130327-173837.jpg

And you know what?! Who knows how faith works. I met a 24 years old Chinese man who works in a gold mining in Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia, after having an hour delay. Haha..felt like home. Weird yet so surprising. Just can’t wait how this will end up. So let’s start the journey, then!

20130327-173829.jpg

Kasih Tak Sampai

Kata grup band Dewa, cinta tak harus memiliki.
Apa iya?

Yang jelas saat ini saya patah hati.
Cinta saya bertepuk sebelah tangan.
Ya..cinta pada negara ini.
Segala daya upaya dikerahkan demi mencapai negara yang nyaman untuk ditinggali.
Tapi apa?

Saya dikhianati.
Berkali-kali.
Hingga sedih hati.
Meski tak tahu kapan harus pergi.
Melangkah lagi.
Meninggalkan Ibu Pertiwi, tanah tumpah darah nan suci..

nge[dadak] ngintil..

Hari ini. Saya mendadak ngintil pacar ke sebuah tempat “persembunyian” di Bandung. Diantar Bapak Tukang Becak dari Kebon Kalapa, akhirnya kami tiba di rumah sederhana itu. Sederhana tapi penuh dengan pernak-pernik personal yang menandakan bahwa si empunya bukanlah seseorang pada umumnya.

Asik banget. Sumpah!

Bagi anda yang tidak percaya, sayapun setengah kaget ketika disambut pria tua bercelana pendek dan cincin batu besar khas. Iya.. orang yang dimaksud adalah sastrawan tenar Indonesia yang ada di Wikipedia ini.

Meski saya lebih banyak diam mendengarkan perbincangan kedua lelaki itu atau kadang menimpali sekedarnya, tapi saya merasa nyaman berada di tempat itu bersama Om Remy nan cuek.

Sembari duduk santai dengan kaki ditekuk ke atas sofa, pria asal Manado ini mengungkap secuil alasan mengapa teater turut dibredel dan dilarang pada masa Orde Baru hanya karena sedikit kritis. Cuma karena itu! Iapun bercerita tentang beberapa fotonya di masa lalu, tentang masa kini yang hanya ingin ngumpet di atas lalu “turun” ketika ada undangan sebagai pembicara.

Remy Sylado berambut keperakan itu memang sosok Orang Besar yang begitu sederhana. Ia masih mencuci bajunya sendiri, membuat kopi dan STMJ sendiri, dan punya sudut-sudut di rumah persembunyian yang begitu mewakili dirinya.

Beberapa jam duduk di rumah itu membuat saya yakin bahwa kamu, kalian, pun saya, bisa menjadi sepertinya. Tumbuh besar tanpa kesombongan dan tetap menjadi diri sendiri dengan pemikiran yang juga besar.

Sambil berkelakar, ia menutup perjumpaan dengan ajakan untuk bermalam bersama pacar. “Yakin ga mau nginap? Kan enak ada yang ngelonin.”

Sudut Personal di Rumah  Persembunyian

Sudut Personal di Rumah Persembunyian