dr.e[am]

8 Jun

“Knowledge is a tree, growing up just like me.”

Saya baru saja mendapatkan kutipan ini dari blog Vitarlenology. Membuka blog ini seperti saat-saat suara lonceng kencang yang membangunkan saya di pagi hari. Shock therapyyang mengingatkan saya betapa indahnya hidup dan sungguh sayang bila tidak dinikmati. Sebuah blog tentang kisah kasih seorang yang begitu mencintai profesi dan hidupnya sebagai seorang pembuat buku catatan. Saya mendadak terenyuh ketika membacanya. Saya ingin kembali memiliki semangat yang dirasakan setiap pagi saat terbangun dari tidur. Saya ingin mencintai hidup.

Banyak hal yang selalu ingin saya kerjakan semasa hidup. Diantara sekian juta impian dan harapan yang berkeliaran di otak, yang paling indah menurut saya adalah menjadi seorang ibu rumah tangga.Ya.. saya ingin menjadi ibu yang baik untuk anak-anak saya nantinya. Setiap perempuan pasti memiliki ambisi. Dan, suka atau tidak suka, beginilah ambisi saya sejak kecil.

Mengapa? Karena, menurut saya, pekerjaan itu sangat mulia. Bayangkan saja ada guru, dokter anak, psikolog, asisten rumah tangga, koki, tukang jahit, sopir, atau bahkan mekanik (bila diperlukan) dikerjakan oleh satu orang, yakni IBU! Melihat betapa multitasking-nya seorang ibu, biar lebih profesional, akan lebih baik bila ia fokus pada pekerjaan utama itu tanpa disambi menjadi pekerja kantoran.

Pernah suatu ketika, saya menceritakan pada ayah perihal ambisi ini. Ayah saya malah marah-marah dan mengatakan, “Trus kenapa kamu kuliah? Langsung nikah saja waktu lulus SMA!”

Iya, masih banyak manusia yang menganggap bahwa Ibu adalah profesi mudah yang tak perlu pendidikan tinggi supaya bisa lulus ujian menjadi Ibu. Cukup bertubuh molek, ranum, subur, siap dibuahi, dan berparas rupawan. Tunggu lelaki datang, ke KUA, ijab kabul, selesai. Semudah itu kah? Bagaimana dengan tanggung jawab membesarkan seorang bayi kecil yang lahir setelahnya? Pendidikannya? Perkembangan psikologisnya? Kehidupannya? Semudah itukah?

TIDAK! Saya tidak sanggup hidup di bawah bayang-bayang kesalahan bila melihat anak saya hanya hidup dari belas kasih orang lain. Anak saya harus hidup di atas kakinya sendiri. Bebas menentukan apa yang ia kehendaki bagi hidupnya dan bertanggung jawab atas pilihannya itu.

Lantas apa? Saya sekarang masih menjadi seorang perempuan lajang (bukan jalang). Bekerja dan dibiayai oleh belas kasih rakyat. Hidup dengan segala rutinitas ala pekerja kantoran lainnya, datang pagi pulang malam (iya malam. jangan kaget!). Menghabiskan sebagian besar hidup saya di jalanan ibukota yang penuh dengan segala problema macet dan banjir di kala hujan.

Ini bukan tulisan untuk memperingati Hari Ibu atau Hari Kartini di Indonesia. Hanya saja, mendadak saya ditampar oleh impian yang beberapa saat lalu tertinggal di balik kotak lusuh dan berdebu.  Akhir kata pada episode kali ini,  menjadi ibu adalah pilihan profesi yang saya rasa akan begitu dinikmati dalam setiap suka dan duka.

Tag:,

2 Tanggapan to “dr.e[am]”

  1. Tarlen 11 Juni 2011 pada 12:52 PM #

    terima kasih sudah berkunjung dan memasukkan alamat blogku di postingan ini..

    salam hangat,
    tarlen

    • MarQ 19 Juni 2011 pada 11:20 PM #

      terima kasih juga telah menginspirasi, Tarlen.. :)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.