Arsip | Januari, 2012

Sudah! Jangan ke Jatinangor..

31 Jan

pic by: asadtristezia.deviantart.com

Mimpi.
Satu kata yang menjelaskan begitu banyak arti. Bagi saya, mimpi adalah awal dari sebuah keinginan terdalam. Dan yang ingin tertulis di sini kemudian adalah sebuah mimpi yang pernah terangkai saat duduk di bangku kuliah silam.

Untuk kalian yang kepo, inilah impian itu..

“Saya ingin membantu Jatinangor.”

Kenapa Jatinangor?
Pertanyaan bagus. Salah satu kecamatan di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, itu merupakan tanah yang menyimpan sejuta kisah ketika enam tahun berada di sana. Awal yang penuh kebencian berubah menjadi rasa rindu yang selalu terbayang sejak pertama kali angkat kaki kembali ke ibu kota.

Penduduk kawasan yang dulunya bernama Cikeruh itu sungguh pantas diberikan pendidikan lebih agar mampu  beradaptasi dengan cara yang bijak dari budaya orang kota. Ya.. Para mahasiswa yang migrasi ke sana, termasuk saya saat itu. Bukankah lebih baik membantu daerah yang kita kenal terlebih dahulu ketimbang tidak sama sekali?

Trus?
Akibat migrasi orang kota, penduduk setempat kebanyakan gegar budaya dan mulai melupakan kearifan lokal. Mata pencaharian yang dulu bertani kini berubah menjadi karyawan Jatinangor Town Square atau tukang jaga kosan. Sawah berubah jadi Kosan. Pemuda berhenti sekolah lebih awal dan akhirnya maling motor untuk dijual di Majalengka atau Garut. Semua demi memenuhi “kebutuhan” untuk bisa bergaya ala mahasiswa kota.

Begitulah..saya merasa ikut andil dan harus bertanggung jawab meski bukan sepenuhnya. Tapi setidaknya mereka harus hidup lebih baik. Sedih rasanya bila mereka harus terpinggirkan karena para mahasiswa pendatang yang seharusnya memberi contoh yang baik karena sedikit lebih berpendidikan.

Mo ngapain emangnya?
Mau punya pertanian dan kebun organik yang dikelola masyarakat sekitar, mau punya perpustakaan gratis buat penduduk sekitar, mau bikin kursus komputer dan bahasa inggris gratis buat pemuda sekitar, mau bikin koran murah buat Jatinangor, atau sekedar mengembalikan tanah lapang agar anak-anak bisa bebas bermain tanpa perlu dipungut bayaran.

pic by: oelatboeloe.deviantart.com

Hmm.. Sepertinya indah mengembalikan Jatinangor menjadi perkebunan hijau lagi. Meski kata Paulo Coelho, “Save your energy: you can’t repeat the past.” Tak salah kan berharap suatu saat bisa mewujudkannya? Siapa tahu ada yang mau bantu. :D

g.ala.u

28 Jan

taken from karishma.me

Tengah malam sedikit beberes blog ini. Berharap nantinya akan lebih sering dikunjungi. Baik oleh diri sendiri maupun kalian, para blogwalkers. Saat membersihkan tautan agar lebih enak dilihat, tak sengaja berjalan ke Multiply pribadi dan melihat tulisan teratas di sana.

Googling My Name…,” begitulah yang tertulis di sana. Mendadak terhempas ke beberapa saat silam saat proses pencarian jati diri. Saat itu, sangat besar keinginan diri ini agar bisa masuk dalam situs pencarian Google. Siapa tak kenal Google? Yang jelas, apapun yang ditemukan di sana pastilah orang terkenal atau minimal hebat/keren. Dan obsesi itu pun muncul.

Beberapa tahun setelahnya, Tuhan memang cukup baik. Nama ini bisa cukup banyak ditemukan dalam lebih dari 5 halaman pencarian. Beberapa memang terhitung ngaco karena kebetulan sang nama cukup pasaran. Namun perasaan bangga itu pasti menyeruak karena banyak tulisan yang pernah dikerjakan dikutip sana sini. Bahkan hingga detik ini rasa itu masih terasa.

Tahun pun berlalu. Lantas siapakah saya sekarang?

Drama Kehidupan

15 Jan

Tua itu identik dengan drama kehidupan. Itulah kesimpulan sementara setelah melewati usia seperempat abad. Tuntutan hidup semakin banyak, tentunya. Tidak melulu harus rajin belajar seperti saat masih duduk di bangku sekolah dulu.

Bagi yang sedang menjalani usia pasca seperempat abad, pertanyaan-pertanyaan ini hadir dan didedikasikan untuk kalian. “Pacarnya siapa? Kerja di mana? Kapan nikah? Udah punya anak? Anaknya berapa?”

Itu baru segelintir pertanyaan yang umum. Masih banyak pertanyaan turunan yang bisa timbul dari kelompok itu. Andai pertanyaan pasca seperempat abad adalah rumus fisika, mungkin kalian sudah jadi Profesor saat ini.

Jauh sebelum menjadi seperempat abad, semua sudah terbayang. Tapi saat menjalaninya adalah momen-momen paling sulit sepanjang hidup hingga timbul reaksi negatif. Seperti ingin menyumpal mulut mereka yang bertanya dengan lakban hitam.

Berparas muda adalah salah satu mukjizat yang diberikan Tuhan. Hanya perlu mempersiapkan diri sebelum pertanyaan-pertanyaan itu dilontarkan dan akhirnya dibalas dengan senyuman atau cengiran. God bless babyface!

Ya..drama kehidupan pasca seperempat abad tidak akan berhenti sampai di situ. Hanya menjadi awal dan sebagian kecil dari semua drama yang akan ditawarkan hidup. “Life is bittersweet,” kata seorang teman.

to dream (v)

11 Jan

“Just fix the recruitment system and reform the bureaucracy. How can you force someone who might have gotten the job because of some connections to get a 600 on the TOEFL?” he asked. “It’s fine to dream that, but 600 is not realistic.” – Andrinof Chaniago, a political and public policy analyst at the University of Indonesia.

pic taken from karishma.me

I would say that too if I were Andrinof or any regular person. Truthfully, I would have never even think that I could reach the number at all. It is kind of, um, impossible.

Let’s say that I am a pesimist kind of person. But somehow, to change something especially in public institution like Ministry of Trade, it has to come from the top. Having a new Minister is definitely a problem in a static institution but this new person is definitely someone who can drive the wheels. At the beginning of new year, he gave instructions and motivations to all of the public officials of Ministry of Trade. His motivation session definitely gave us a new spirit of change, which is also a rare thing in public institution, off course.

There is definitely something behind this 600 TOEFL score policy. And I smell something positive. A leader should dream big, as big as possible. And to make it come true, we need hard work also. With the spirit he gave, hopefully all the hard work could change the mentality of the public officials. And at the end will make a policy that prosper the poor one. *finger crossed*

“Do what you can, with what you have, where you are.” — Theodore Roosevelt
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.