FFWD: What are you in the next 10 years?

Hari ini, pembicaraan di grup teman sepermainan jaman kuliah ramai oleh kabar bahwa salah satu teman seangkatan kami (sebut saja Mawar) jadi anggota sekaligus aktivis pro kemerdekaan. Sebuah artikel dishare. Tulisan bertajuk mengapa ia kabur ke Australia itu dipublish April 2012. Sementara teman kami lainnya menyanggah. Tidak mungkin, katanya. Namun ternyata memang ia terakhir kontak tahun 2011, saat itu Mawar masih jadi PNS.

Siapa yang bisa melawan takdir? Saat ini mungkin hidup penuh kenyamanan dengan segala fasilitas menjadi PNS. Namun tak ada yang bisa menyangka apa yang akan terjadi besok, bila perang terjadi, atau saya meninggal, atau apa saja. Takdir Tuhan memang semudah membalikkan telapak tangan.

Bukan bermaksud menya menye penuh drama, saya kemudian membayangkan apa yang akan terjadi 10 tahun mendatang. Akankah saya tetap menjadi PNS yang sedikit tantangan macam kini (setelah 5 tahun menjalani status tersebut)? Atau saya berani melangkah keluar, menjadi ibu bekerja dari rumah bersama anak-anak? Apakah saya akan tetap menulis? Apakah saya lebih mudah ditemukan dalam google? Akankah tulisan saya jadi referensi atau sekedar lewat saja? Ah..jadi generasi peterpan memang syulit alias terlalu banyak drama ketimbang aksi nyata.

Selama lima tahun ini tantangan terbesar saya justru ketika menjadi ibu di rumah. Makanya kemudian saya membuat blog tentang kisah saya menjadi ibu. Memiliki dua peran jadi ibu bekerja yang hampir setiap tahun pasti dinas ke luar negeri juga berat dan kini dituliskan dalam jejak katumbiri. Saya terus terang menolak menjadi tua. Takut mati. Tapi kenyataan tak bisa dipungkiri. Saya harus sadar bahwa muda mudi kini jauhhhh lebih sukses ketimbang saya. Awkarin yang baru mau lulus SMA saja super mandiri plus banjir duit. Mamak Oki Setiana Dewi yang banjir ASI juga sukses jadi ustadzah.

Saya selalu meyakini bahwa semua akan menjadi sukses bila hidup dijalani dengan penuh perjuangan. Bila kini hidup masih begitu-begitu saja, mungkin saya kurang berjuang. Kurang bersyukur juga. Karena berjuang adalah tahap lanjutan setelah mensyukuri kemampuan diri. Karena melihat kesuksesan orang lain tanpa mensyukuri diri itu sama artinya dengan syirik tanda tak mampu.

Lalu, jadi apa kamu 10 tahun mendatang?

U30

dua hari sudah melewati usia kepala tiga. entah sadar, entah pasrah..akhirnya saya menerima kenyataan bahwa diri tak lagi muda.

tampang dan gaya bisa jadi menipu banyak mata. toh, mereka tak rugi dengannya. tapi saya tidak akan bisa menipu diri dan jam biologis. mereka akan selalu menghantui hingga saya menutup mata kelak..

saya takut, terus terang. semakin sadar usia, semakin bergidik akan hari esok. saya tidak tahu akan jadi apa ketika waktu bagi diri telah habis. apa jadinya anak dan suami, mereka yang begitu kusayang, tanpa saya? pertanyaan ini memang menghantui belakangan. laiknya orang tak beragama. ah!

Kemudian sebuah tulisan dari  mantan redaktur saya dulu begitu menohok. Ia sedang cuti untuk menulis sebuah buku tentang Hatta. Berjuang melawan kemalasan demi bisa menelurkan sebuah karya. Sementara saya? Terjebak dalam rutinitas di ranah publik yang entah apa hasilnya akan dirasakan rakyat.

Ingin juga menulis buku. Atau apapun. Sesuatu yang bisa membuat saya dikenang dengan baik. Meski hanya di lingkungan keluarga. Tapi saya tak pernah bisa menulis tulisan panjang. Kecuali skripsi. Itu juga banyak kutip sana sini.

Iya, mungkin saya harus bergegas. Ambil cuti. Untuk berkarya..entah lewat apa.

Yth. Bapak Supir Bajaj,

Hari ini tak ada abang ojek langganan di Stasiun. Lantas langkah ini terhenti di depan bajaj. Sebuah bajaj (yang diklaim) ramah lingkungan berbahan bakar gas dengan supir kurus dan berusia sedikit lanjut.

Tak lama berjalan, dengan jalan yang kurang mulus alias ndut ndutan. Si Bajaj tepar. “Kopling putus,” kata Bapak Supir. Bapak turun dan meminta saya pindah ke bajaj yang lain.

Tak lama setelah turun, Bapak datang menghampiri dan menyerahkan kartu Brizzi saya yang terjatuh di jok bajaj. Saya berterima kasih dan langsung naik bajaj lain yang lewat.

Dari bajaj baru, saya melihat Bapak terpekur di sisi bajaj. Entah sudah berapa lama Bapak menunggu penumpang di Stasiun dan Bapak tentu berharap turunnya rejeki dari Tuhan melalui saya. Bukan rejeki, eh justru apes.

Sepanjang jalan saya menyesal tak menyisihkan sedikit rejeki untuk Bapak. Saya ingat sebuah cerita tentang penjual amplop di Masjid Salman ITB. Saya ingat tentang banyak orang kurang mampu yang ikhlas bekerja mengais rejeki tanpa mengemis belas kasihan dan tidak mengeluh secuilpun.

Maafkan saya.. semoga Bapak selalu dilimpahi kesehatan dan ditambahkan rejekinya melalui tangan lainnya.

blank

“When you stop expecting people to be perfect, you can like them for who they are.”
— Donald Miller

I am having a writer’s block.
Well, this is not about this blog, actually. It is more of a working statement.
As an public relations agent, they urge me to be creative with my writings related to job matters.
But all of the sudden, these two days I can’t think.
None!

I need to read new sources.
I need a refreshment.
I need to be clean again.

Argh!

Impi(an)

Impian adalah ketika semua terbang di angkasa, mengawang-awang.
Kadang ingin menggapainya serta membawanya ke lahan realita. Terus menggenggamnya hingga menggapai impian baru..

Ketika rutinitas itu mulai membosankan, impian itu muncul kembali. Memberikan secercah harapan atas rutinitas yang sepertinya bahkan tidak berharap ada kemajuan.
Andai ada impian yang mengintip dari rutinitas kini, mungkin ia tidak akan sebegitu membosankannya.
Ia hanya seonggok sistem yang membelenggu orang-orang di dalamnya dengan segala fasilitas.
Mungkin impian itu memang muncul diantara ketidakadaan, justru bukan dari kenyamanan.

Ah, padahal kenyamanan itu dibuat untuk orang banyak. Untuk hajat hidup mereka yang membayar pajak. Untuk keluarga pahlawan devisa yang menunggu dengan harap cemas.
Tak ingin rasanya berlama-lama dengan kenyamanan itu. Lebih baik pergi dan menggapai impian.
Membawanya bersama keluarga kecil yang kini selalu menungguku di setiap sore.

Ketimbang tinggal dan tak berimpian..

Happi[ness]

Pagi tadi..
Di sebuah akun jejaring sosial path milik teman, saya menemukan tulisannya tentang resolusi 2014.
Tentu saja, sekarang kan masih tergolong awal tahun baru.
Begini tulisnya,

Resolusi 2014 : “Finding happiness in life”

Terus terang, saya kurang sepaham.
Kebahagiaan tidak perlu dicari. Ia ada di sana.
Selalu.
Tak pernah pergi kemana-mana.
Kita (err..atau saya?) hanya perlu sedikit membuka mata dan melihatnya di pojok, atau di sisi, sana.
Bersyukur adalah salah satu cara melihat kebahagiaan itu.

Iya..

“I won’t find happiness. Will make it and thankful for what I have. That’s what happiness is,” tulis saya di Twitter.

Happy New Year 2014, cyber peeps!

Makhluk “Anomali”

Sejenak rehat dari rutinitas dan menemukan satu hal di jejaring sosial.

Satu orang tepatnya..
Ia lucu. Saya mengenalnya saat di bangku kuliah.
Dia yang jauh lebih tua, suka dengan salah satu teman berusia di bawah saya.
Tidak berlanjut, tapi kami tetap berteman.
Ya..begitulah pertemanan.

Dia sosok yang unik.
Anak band, suka sejarah, “idealis”, dan selalu bertopi Gatsby kotak-kotak alias Newsboy Cap.
Pemikirannya jarang bisa dipahami dan mungkin itu juga yang membuatnya memilih untuk tidak bertoga.

Hingga kini, di jejaring sosial, ia (sebut saja si makhluk “anomali) masih kerap membuat saya terhenyak.
Di dunia ini, eksistensi makhluk sejenis pasti ada di sekitar kita.
Tapi tak akan terlihat dari kasat mata.
Karena mereka sibuk dengan “idealisme”.
Tak akan terganggu oleh mayoritas.

Terbesit rasa ingin suatu saat menjadi satu spesiesnya..